Tips Untuk Milenial Agar Bisa Beli Rumah

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
13 Februari 2018

Ada kekhawatiran, generasi milenial terancam tidak bisa memiliki rumah. Separah itukah?

Sebuah survei yang dirilis 2017 lalu menyebutkan, sekitar 95% generasi milenial diprediksi akan menjadi ‘gelandang’ pada tahun 2020. Harian Jakarta Post bahkan menulis begini, “Millenials see owning a house as mission impossible”. 

Prediksi tersebut tentu bukannya tidak berdasarkan data. Faktanya, harga rumah melonjak tinggi dari tahun ke tahun. Terlebih harga tanah di kota-kota besar, seperti Jakarta.

Selain harga yang tinggi, kebiasaan milenial yang cenderung boros dan tidak mementingkan kebutuhan hunian juga menjadi faktor lain. Mengutip laman kompas.com, Country Manager Rumah123 Ignatius Untung menyebutkan bahwa proritas generasi milenial yang memiliki pendapatan Rp3 juta – Rp5 juta untuk 6 bulan ke depan adalah 1)traveling, 2)gadget, dan 3)komputer. Setelah itu barulah properti pada prioritas ke-4.

Bagaimana dengan yang penghasilannya lebih tinggi? Ternyata sama saja, sami mawon. Urutan prioritas generasi milenial berpenghasilan Rp5 juta – Rp8 juta adalah 1) beli gadget, 2) komputer, 3) traveling, 4) mobil, dan baru 5) properti. 

Bagaimana setelah penghasilannya lebih tinggi lagi? Di sinilah baru ada perkembangan. Mereka yang berpendapatan Rp8 juta – Rp15 juta mengutamakan beli 1)gadget dan 2)komputer, lalu 3)properti.

Padahal, waktu paling tepat beli rumah adalah secepatnya. Kalau Anda tidak memutuskan sekarang, bisa-bisa tidak terkejar.  Sebab, harga rumah, tanah, dan properti lainnya tiap cenderung meningkat. 

Di sisi lain, bisa dimengerti, tingginya harga rumah, mahalnya bunga kredit KPR, dan sulitnya mencari pekerjaan dengan penghasilan yang layak merupakan hambatan yang tidak bisa dibilang ringan agar milenial memprioritaskan punya rumah. (Artikel ini bisa jadi referensi : Ambil KPR vs Kontrak Rumah).

Banyak jalan menuju Roma, ada banyak cara yang bisa dilakukan millenial untuk memiliki tempat tinggal. Bagaimana caranya? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Milenial Beli Rumah, Siapkan Finansial

Bagi siapapun, membeli rumah merupakan sebuah tujuan finansial yang cukup besar. Tak terkecuali untuk milenials. Karena itu butuh persiapan finansial yang matang. 

Menurut Matt Murphy, CMO dari Chime Thechnologies, pembeli cerdas akan sangat memahami kondisi finansial keuangan mereka. Sebab, hal tersebut akan berpengaruh terhadap kemampuan mencicil biaya kredit rumah.

Jika Anda punya rencana beli rumah dalam kurun waktu 2 – 3 tahun mendatang, Anda harus bijak dalam mengatur pos – pos pengeluaran. Pergi berlibur atau beli kendaraan dalam waktu dekat bukan pilihan yang bijak. Apalagi kalau sampai membuat utang baru. (Coba simak artikel ini : Baiknya Ajukan KPR atau beli mobil dulu?)

Sebab, saat memutuskan untuk membeli rumah, Anda perlu punya tabungan dalam jumlah yang cukup besar untuk membayar uang muka.  Semakin besar uang muka yang diserahkan, maka semakin sedikit uang yang Anda pinjam dan semakin kecil cicilan.

Selain itu, Anda juga perlu pertimbangkan kualitas rumah yang hendak dibeli. Apakah Anda ingin tinggal di rumah kecil di pusat kota dengan harga relatif mahal, atau rumah besar di pinggiran yang tentram dan nyaman? Perhitungkan juga akses transportasi umum serta jarak tempuh dari lokasi hunian ke tempat kerja.

Yuk, Gunakan Autodebet untuk Uang Muka Beli Rumah

Langkah paling dasar untuk beli rumah adalah menabung sebagian penghasilan tiap bulan. Banyak penelitian menyebutkan, kesulitan terbesar milenial untuk beli rumah adalah tidak memiliki dana untuk membayar uang muka alias down payment (DP) sebagai prasyarat KPR.

Namun, kebanyakan anak muda sulit mengelola keuangan dengan baik, sehingga mengumpulkan uang muka alias DP menjadi kesulitan tersendiri. Mengutip  hasil survey Acorns (2015), hampir separuh anak muda menghabiskan lebih banyak uangnya untuk nongkrong di kedai kopi daripada menabung untuk pensiun.

Untuk menyiasati kebiasaan tersebut,  cara paling efektif  untuk memaksa diri menabung adalah dengan menyisihkanlangsung saat baru terima gaji. Pastikan Anda tidak menunda hingga akhir bulan. Jika sulit konsisten, manfaatkan fasilitas tabungan auto debet yang dapat diatur agar terpotong secara otomatis dari rekening Anda. Setting pengaturan pemotongan di awal bulan atau setelah jadwal penerimaan gaji.

Atau, Anda bisa manfaatkan Reksadana Auto-Invest, yakni memotong rekening secara otomatis dalam jumlah dan waktu tertentu tiap bulan untuk diinvestasikan di reksadana. Reksadana menawarkan instrumen yang memberikan return lebih tinggi dengan tingkat keamanan yang baik dibandingkan menabung di tabungan biasa, misalnya reksadana pasar uang. 

Tapi, untuk menabung DP, para financial planner tidak menyarankan reksadana saham yang memiliki risiko tinggi. Tidak juga di investasi unit link karena besarnya biaya administrasi yang tujuannya untuk jangka panjang, kisaran di atas 10 tahun.

Ikut Program Cicilan DP untuk Beli Rumah

Ada alternatif lain untuk menyiasati kendala besarnya uang muka ini. Anda bisa mencoba ikut program cicilan DP yang diinisiasi oleh developer. Dengan program tersebut, Anda bisa mencicil uang muka selama 12x atau 24x dalam jangka waktu tertentu. Setelah uang muka lunas, barulah Anda bisa mengajukan KPR ke bank

Meskipun terlihat memudahkan, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan. Pertama, harga rumah akan jauh lebih tinggi dibandingkan rumah tanpa cicilan DP. Kedua, cicilan DP akan hangus jika Anda gagal menyelesaikan cicilan atau akhirnya pengajuan KPR Anda di tolak bank. Tergantung pada perjanjian Anda dan pengembang bersangkutan.

Ambil KPR Tenor Paling Panjang

Sebagai pekerja muda yang baru mulai berkarier, generasi milenial memiliki batasan usia pensiun yang cukup lama. Umumnya, bank menetapkan di atas usia pensiun 55 tahun sebagai batasan tidak dapat mencicil kredit lagi. Karena itu, Anda bisa manfaatkan dengan mengambil tenor KPR yang paling maksimal.

Umumnya, bank memberi pinjaman KPR maksimal dalam jangka waktu 25 tahun. Untuk Anda yang berusia di bawah 30 tahun bisa memanfaatkan masa tenor sepanjang itu.  Dengan tenor yang panjang, maka jumlah cicilan per bulan tidak akan memberatkan sehingga kemungkinan besar pihak bank menyetujui permintaan KPR.  Anda bisa mempelajari produk KPR Maybank yang salah satu kelebihannya adalah menawarkan tenor panjang. 

Tapi, dengan masa cicilan yang panjang, bukankah otomatis bunga peminjam semakin membengkak? Bisa jadi bunga pinjaman memang lebih besar dibandingkan hutang pokoknya.  Namun perlu dingat, nilai tanah dan bangunan di Jabodetabek cenderung meningkat tiap tahun dengan peningkatan rata-rata di atas suku bunga KPR.

Jadi, menurut banyak financial planner, tidak masalah berhutang untuk asset yang nilainya terus meningkat. Sebab, akhirnya Anda akan diuntungkan akibat kenaikan nilai asset yang lebih besar dari bunga kredit yang dibayarkan. Ini strategi keuangan yang cukup pintar karena berarti Anda sudah mengambil utang produktif. 

Bekerja di Perusahaan dengan Fasilitas KPR

Ada beberapa perusahaan yang memberikan subsidi bunga KPR atau bahkan pinjaman kepemilikan  rumah tanpa bunga pada karyawannya. Memang, perusahaan-perusahaan ini tidak mudah untuk dimasuki, sebab Anda akan menghadapi serangkaian persyaratan ketat. Meski sulit, bukan berarti mustahil, bukan?

Oleh karena itu, sebaiknya, generasi milenial tidak hanya fokus pada gaji, melainkan juga pada fasilitas yang ditawarkan perusahaan.

Dukung Cita-cita Beli Rumah dengan Investasi

Agar generasi milenial bisa beli rumah, sebaiknya tidak hanya mengandalkan penghasilan tetap. Anda bisa menyiasatinya dengan mulai berinvestasi. Carilah produk investasi yang terjangkau dan bisa mendatangkan keuntungan. Misalnya, investasi tabungan berjangka, reksadana, deposito, emas, asuransi, hingga properti.

Tahan Keinginan Konsumtif agar Bisa Beli Rumah

Salah satu kesulitan terbesar generasi milenial dalam mengelola keuangan adalah sifat konsumtif. Kebanyakan milenial lebih memprioritaskan membeli barang-barang seperti gadget terbaru, tas bermerk, sepatu baru, dan sebagainya. Padahal harus disadari, hunian adalah kebutuhan utama.

Yuk, mulai dari sekarang hindari gaya hidup konsumtif dan mulai mengelola finansial untuk membeli hunian.

Pandangan bahwa generasi milenial tidak bisa memiliki rumah bisa Anda patahkan dengan mulai mengelola finansial secara terarah. Salah satunya dengan mengurangi gaya hidup konsumtif dan foya-foya.  Hemat, yuk!