Perhatikan 5 Poin Ini Agar Pengajuan Kredit Bank Diterima

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
06 Desember 2017

Anda sedang mempertimbangkan untuk pinjam modal ke bank untuk memperbesar usaha?

Bagi pelaku usaha kecil, meminjam dana ke bank memang bukan urusan sederhana. Apalagi jika bisnis yang Anda kelola terhitung baru dan belum kelihatan hasilnya.

Bank selalu memberikan persyaratan dan ketentuan yang dianggap memberatkan. Meski sekarang sudah ada KUR (Kredit Usaha Rakyat), namun keluhan kesulitan meminjam modal sering kita dengar. Pihak Bank sendiri juga tidak mau mengambil resiko besar dengan memberikan pinjaman kepada orang yang belum dikenal dengan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebenarnya bagi pelaku usaha kecil tidak perlu risau dengan modal usaha yang diperoleh dari pinjaman bank. Ada banyak bank yang menyediakan fasilitas permodalan

Pihak Bank sebenarnya selalu memperhatikan beberapa aspek sebelum mereka mengambil keputusan apakah sebuah proposal kredit diterima atau ditolak. Syarat dan pertimbangan-pertimbangan di bawah inilah yang perlu diperhatikan dan dipenuhi oleh pelaku bisnis usaha kecil sebelum mengajukan pinjaman ke bank.

1. Tujuan Kredit Bank

Sebagai calon debitur, Anda  perlu memberikan informasi mengenai portofolio usaha secara detil. Dengan demikian Anda bisa menentukan secara tepat tujuan kredit usaha yang diajukan, baik pinjaman modal kerja usaha maupun pinjaman investasi untuk peningkatan produktivitas usaha.

Calon debitur juga diwajibkan untuk mengetahui secara detil tujuan penggunaan kredit usaha, berapa nominal kredit yang akan diajukan, serta jangka waktu dan sumber dana untuk pengembalian kredit tersebut.

Saat mengajukan permohonan kredit, Anda akan diwawancarai pihak bank untuk mengetahui sejauh mana calon debitur mengetahui portofolio usahanya dan tujuan utama pengajuan kreditnya.

Anda sebaiknya menjawab pertanyaan pewawancara dengan jujur, logis, dan tidak dibuat-buat. Dengan demikian, diharapkan bank memiliki keyakinan dan kepastian usaha serta prospek usaha calon debitur tersebut.

2. Persyaratan Kredit Bank

Setiap bank selaku kreditur memiliki kriteria dan syarat yang diajukan kepada para debitur. Untuk itu, Anda selaku calon debitur sudah seharusnya memahami persyaratan apa saja yang diperlukan dalam pengajuan kredit.

Secara umum, ada 4 persyaratan dokumen kredit yang harus dilengkapi oleh calon debitur, antara lain:

•    Dokumen identitas pribadi calon debitur (salinan KTP, KK, Akta Nikah, Akta Pendirian & Perubahan dan lain sebagainya)
•    Dokumen legalitas perizinan usaha (salinan NPWP, SIUP, TDP dan izin lainnya)
•    Dokumen keuangan usaha (laporan keuangan, salinan tabungan, data penjualan dan lain sebagainya)
•    Dokumen agunan (salinan sertifikat, IMB, BPKB, Invoice Mesin dan lain-lain).

3. Kredibilitas Calon Debitur

Setelah Anda mengajukan berkas permohonan kredit disertai dokumen kredit di atas, biasanya pihak bank akan melakukan proses analisis berikutnya yaitu pengecekan (BI checking) di pusat data Bank Indonesia (BI).

Pengecekan ini dilakukan untuk melihat rekaman jejak finansial calon debitur. Apakah calon debitur pernah mengalami kredit macet atau permasalahan perbankan lainnya. Pastikan rekam jejak finansial Anda dalam kondisi lancar (clear).

Jika pernah macet atau bermasalah dalam pembayaran kredit di tempat lain, bisa  dipastikan permohonan kredit Anda ditolak karena bank tersebut takut kemungkinan hal yang sama akan terulang.

Selain BI Checking, pihak bank juga melakukan Trade Checking atau Community Checking.  Caranya dengan melakukan pengecekan melalui rekan-rekan usaha Anda (pemasok dan pembeli), sesama pelaku usaha industry, bahkan ke pesaing bisnis.

Tujuan Trade Checking yaitu untuk mengetahui dan menilai calon debitur dalam menjalankan kegiatan usahanya dan hubungan bisnis di antara sesama rekannya. (baca ini : cara mengelola keuangan usaha secara efektif ).

4. Kemampuan Calon Debitur

Kemampuan debitur merupakan salah satu syarat utama dalam persetujuan kredit. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan pengelolaan usaha maupun kemampuan keuangan calon debitur.

Untuk membuktikan kemampuan calon debitur tersebut, bank biasanya melihat data keuangan, di samping pengamatan langsung pihak bank ke tempat usaha calon debitur.

Anda sebaiknya menyusun data keuangan yang disodorkan ke bank secara rapi dan lengkap, agar pihak bank mudah melakukan analisis kredit. Analisis itu dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan usaha, berapa besar kebutuhan usaha, dan kemampuan pembayaran kembali ke pihak bank.

Dalam hal ini, pihak bank biasanya meminta calon debitur mempersiapkan dana pembiayaan sendiri (self financing) dari total kebutuhan usaha calon debitur. Besarnya minimal 20-30% dari total kebutuhan usaha. Pihak bank menyarankan agar pembiayaan tidak semua berasal dari bank, melainkan dari calon debitur itu sendiri.

Ini bertujuan sebagai ikatan awal debitur dan kreditur dalam pembiayaan suatu usaha calon debitur serta menciptakan rasa tanggung jawab agar calon debitur tidak mudah mengabaikan kredit usaha yang diterimanya.

Dalam menghitung kemampuan debitur, ada istilah Debt Buren Ratio atau rasio utang terhadap pendapatan. Setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda mengenai hal tersebut, namun secara garis besar umumnya bank menetapkan rumusan bahwa rasio seluruh cicilan terhadap pendapatan take home pay tidak boleh melebihi sepertiga penghasilan bersih.

5. Agunan atau Jaminan

Pihak bank atau lembaga keuangan lainnya biasanya mensyaratkan adanya agunan atau jaminan dalam setiap pengajuan kredit. Tentunya tidak semua barang dapat dijadikan agunan. Ada kriteria-kriteria tertentu suatu agunan layak dijadikan jaminan kredit, seperti kelengkapan dokumen agunan, keabsahan/legalitas, kondisi, umur agunan, lokasi, marketabilitas dan kriteria lainnya yang menjadi pertimbangan.

Agunan yang diberikan sebaiknya kisaran harga melebihi atau sama dengan jumlah kredit yang diajukan. Penilaian agunan dapat dilakukan oleh pihak internal bank maupun pihak eksternal bank sesuai dengan kebijakan masing-masing bank. Tentunya fungsi agunan adalah sebagai pelindung bank dari risiko kerugian apabila adanya kredit macet di kemudian hari.

Selain itu, kelengkapan surat, lokasi agunan, dan kondisi agunan tersebut juga menjadi pertimbangan penting bagi pihak bank untuk memberi persetujuan pemberitan kredit.  Nilai agunan biasanya ditentukan oleh petugas bank berdasarkan kelengkapan persyaratan, lokasi agunan, dan kondisi agunan.  

Semakin strategis letak lokasi agunan tersebut maka nilainya akan semakin mahal.  Biasanya, setiap tahun nilai agunan akan naik, dan untuk beberapa bank terutama bank syariah kenaikan nilai agunan ini bisa memberi peluang pengajuan penambahan kredit sesuai dengan aturan yang ditetapkan bank tersebut. (Jika agunan menjadi prasyarat dinilai memberatkan, Anda bisa mengajukan KTA yang persyaratannya lebih mudah.  Baca juga Cara Memilih KTA Terbaik dalam artikel Danaxtra selanjutnya.)

Lengkapi semua persyaratan dengan baik dan semoga kredit yang Anda ajukan segera mendapat persetujuan.