Milenial, Ngobrol tentang Investasi, yuks!

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
10 Oktober 2018

Sudah bekerja berapa tahun, Bro? Sudah mulai investasi? 
Kenapa belum? Mikirin risiko?

Padahal investasi ini penting banget lho, buat masa depan milenial. Justru pada usia awal ini, mestinya Anda segera berinvestasi. Soalnya kalau nanti sudah di puncak karir, Anda sudah tidak bisa coba-coba lagi. Lebih baik merangkak untuk belajar investasi  di usia awal, ketimbang jatuh ketika sudah di puncak!

Usia di bawah 35, menurut perencana keuangan Melvin Mumpuni, harusnya sudah mulai investasi. Selanjutnya pada rentang 35-40 tahun, Anda sudah masuk akselerasi.

Perencana keuangan yang lain, Safir Senduk malah merentang usia lebih pagi. Menurutnya, umur ideal kaum milenial untuk berinvestasi adalah ketika ia sudah mulai bekerja di kisaran usia 22-23 tahun.

Milenial, mengapa ragu investasi? 

Masih ragu-ragu? Ok, ragu berinvestasi bukan hanya  terjadi pada Anda. Beberapa milenial mengaku sampai saat ini belum berinvestasi  karena beberapa alasan. Padahal mereka tahu betul apa itu investasi dan apa gunanya. Bahwa investasi itu sama seperti menabung, tapi dengan tujuan jangka panjang.

Investasi juga sangat penting untuk mencapai kebebasan financial, agar dalam jangka panjang bisa punya uang cukup untuk mempersiapkan masa pensiun kelak.  

Salah satu alasan mereka biasanya adalah belum menemukan produk investasi yang tepat karena masih terlalu mikirin risiko. Kebanyakan mereka takut salah pilih produk investasi. Mereka juga takut tertipu, karena membaca berbagai berita tentang investasi bodong. 

Safir mengakui memang tidak mudah mengajak milenial untuk berinvestasi.  “Investasi itu kan beda sama belanja. Belanja dapatnya diawal, sedangkan investasi dapat keuntungannya di akhir. Tapi semakin cepat berinvestasi, hasilnya akan semakin besar ,” katanya seperti dilansir Kontan. 

Safir mengatakan ada dua hal yang membuat orang mau berinvestasi. 
Pertama, investasi untuk mencapai dana tertentu. Misalnya ingin melanjutkan kuliah. Jadi ia gencar berinvestasi untuk bisa memperoleh dana pada tahun yang ditetapkan.
Kedua, investasi untuk meningkatkan kekayaan yang target atau tujuan keuangannya agak abstrak. Inilah yang agak sulit diedukasi. 

“Biasanya orang mau berinvestasi jika darurat atau ada target di depan mata. Kalau tidak ada keduanya akan sulit mulai investasi,” lanjutnya. 

Lain Safir, lain Melvin. Menurut Melvin, ada lima penyebab kaum milenial masih enggan berinvestasi. 
Pertama, modal besar. Nyatanya masih banyak kaum milenial yang menganggap investasi itu untuk orang kaya, sehingga butuh modal besar. Bahkan sebagian dari mereka menyatakan gajinya kecil, sehingga susah jika mau berinvestasi. Padahal, justru karena gaji kecil itu Anda harus menambang penghasilan. Investasi, menurut Melvin, adalah 1 dari 3 cara menambah penghasilan.

Kedua, risiko tinggi. Banyak pemula yang berpikir risiko investasi itu tinggi. Ya memang jelas, semua produk investasi itu punya risiko. Akan tetapi, jika tidak berinvestasi pun Anda tetap berisiko. Misalnya tak bisa mengejar tujuan Anda.

Ketiga, investasi pasti rugi atau uang hilang. Persepsi ini tidak benar. Justru ketika Anda mendiamkan uang, nilanya akan terus berkurang akibat inflansi.

Keempat, ada banyak biaya tambahan. Okelah sebagian besar investasi memang memiliki biaya administrasi, platform, biaya data, dan lain sebagainya. Namun menurut Melvin,  tetap ada investasi yang tidak mengenakan biaya seperti  itu. Misalnya investasi reksadana.

Kelima, uang dikunci atau tidak bisa diambil. Pada kenyataanya banyak investasi yang bisa anda cairkan dalam waktu dekat. Contohnya saja reksadana bisa dicairkan satu hari setelah dibeli.

Step by Step investasi buat Milenial

Gimana Bro,  sudah mulai tertarik main-main  investasi? 
Coba simak saran Melvin ini untuk Anda yang mulai tertarik mengembangbiakkan penghasilan. 

Yang pertama,  tetapkan dulu apa tujuan investasi Anda.  Misalnya saja, untuk Anda milenial yang lahir antara tahun 1986 hingga 1994,  butuh dana buat menikah atau membayar uang muka rumah, bisa dijadikan tujuan tersebut motivasi untuk berinvestasi.

Ngomong-ngomong masalah ini,  banyak financial planer yang mengamati bahwa tantangan pertama yang dihadapi mayoritas generasi milenial untuk investasi adalah belum menentuan tujuan.

Doglas Boneparth, penulis buku “Millennial Money Fix” mengungkapkan  bahwa umumnya milenial tidak memiliki tujuan finansial yang jelas. Padahal umumnya mereka berpenghasilan besar. Akibatnya, mereka yang gagal dalam mengelola keuangan.

Salah satu contoh yang paling jelas adalah kesulitan punya rumah/tempat tinggal.  Menurut Boneparth, selain karena ketidakseimbangan antara kenaikan upah dengan harga property, hal itu juga disebabkan karena kurang jelasnya tujuan investasi bagi milenial.

Coba juga ikuti saran George T. Doran dalam rangka membuat tujuan financial. Ia merumuskan itu melalui konsep S.M.A.R.T yaitu : Specific, Measurable, Achivable, Realistic, and Timely. Tujuan yang jelas akan membantu Anda lebih mudah menentukan tujuan untuk mencapainya.

Selanjutnya, Anda harus meningkatkan pengetahuan soal investasi tersebut. Coba cari tahu, investasi jenis apa yang bisa digunakan  untuk bisa meraih tujuan tersebut. Anda bisa mencari nya dengan datang ke financial planner dan konsultasikan secara online. 

Secara praktis, Safir juga punya beberapa tips bagi Anda yang mau mengawali investasi. 

1. Pahami bahwa berinvestasi itu bisa dari dana yang sedikit dulu. “Anda bisa mulai berinvestasi ketika sudah mendapatkan pemasukan. Entah itu dari uang saku atau penghasilan dari awal bekerja,” katanya. 

2. Investasikan uang di tempat yang akrab di telinga Anda. Misalnya bisa taruh di bank lewat deposito. Meski bunganya kecil, tetapi itu sudah mulai belajar.

3. Memang perlu datang ke perencana keuangan, tetapi menurutnya, lebih perlu lagi datang ke customer service di bank.  "Mintalah pada mereka untuk melakukan autodebet dari rekening Anda misalnya untuk dimasukan ke reksadana," pungkasnya. 

 Are you ready?

Artikel terkait : Memilih investasi terbaik dan aman bagi pemula . Baca juga 5 Pilihan investasi syariah