Ingin Tinggal Di Apartemen? Pertimbangkan Biaya Bulanan Ini

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
13 Maret 2018

Karena suka gaya hidup yang serba praktis, banyak milenial yang memilih tinggal di apartemen ketimbang rumah tapak. Maklum saja, apartemen biasanya dibangun di tengah kota yang relatif lebih dekat dengan tempat kerja.

Ada banyak alasan mengapa kaum milenials suka tinggal di apartemen. Berikut ini beberapa alasan yang sering mereka ungkapkan. 

Praktis. Terbiasa mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah lewat smartphone, biasanya mereka juga anti dengan hal-hal yang ribet. Tinggal di apartemen akan memudahkan mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari karena biasanya hunian vertikal ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai.

Minimalis. Karena ukuran apartemen tidak sebesar rumah tapak, milenials juga menjadi lebih mudah dalam menjalankan aktivitasnya. Selain itu, karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja, mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk merawat tempat tinggalnya. Nah, tinggal di apartemen membuat mereka lebih mudah dalam menjalankan hal ini.

Lebih suka hidup di tengah kota.  Apartemen di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan kawasan lain yang dekat dengan perkantoran adalah hunian idaman generasi milenial. Hal ini karena pusat kehidupan generasi milenial juga berada di tengah kota sehingga tinggal di apartemen akan memudahkan mereka untuk menjangkau berbagai akses seperti kantor, fasilitas umum, pusat hiburan, dan pusat perbelanjaan.

Fleksibel. Generasi milenial memiliki pola hidup yang suka berpindah-pindah tempat tinggal. Alasannya, ingin ber-traveling untuk mendapatkan pengalaman baru. Alhasil, milenial jadi nggak suka mengoleksi banyak perabotan. Hal ini pun membuat mereka lebih memilih untuk menyewa apartemen karena lebih fleksibel dibanding memiliki rumah di satu tempat.

Melambangkan gaya hidup modern.  Apartemen biasanya ditinggali oleh orang-orang yang memiliki produktivitas kerja tinggi. Selain itu, lengkapnya fasilitas dan juga desain kebanyakan apartemen yang terkesan mewah membuat generasi milenial merasa bangga jika mereka bisa memiliki apartemen dan tinggal di sana .

Tinggal di Apartemen, Pertimbangkan Biaya Ini!

Apakah saat ini Anda juga tengah mempertimbangkan tinggal di apartemen dengan alasan-alasan di atas? (Coba baca dulu artikel ini : Beli Rumah atau Apartemen?). Sekalipun harga apartemen biasanya sedikit lebih rendah dibandingkan rumah tapak,  Anda mesti mempertimbangkan biaya hidup di apartemen tidaklah murah. 

Ada biaya bulanan alias biaya pemeliharaan gedung/maintenance fee yang jumlahnya sangat lumayan. Biaya ini mencakup biaya servis (service charge), iuran pemeliharaan lingkungan (IPL), pemeliharaan saluran pembuangan dapur dan sampah (sinking fund), serta biaya listrik, air, parkir.
Sekadar informasi, biaya servis dipakai untuk membayar gaji petugas keamanan, kebersihan, pemeliharaan, dan perawatan. Lalu, IPL untuk biaya operasional apartemen, seperti listrik di lorong dan lift.

Menurut Equita Maulidya, penghuni sebuah apartemen di daerah Cipulir Jakarta Selatan, seperti dikutip dari Kontan,  untuk biaya pemeliharaan gedung, di luar listrik, air, dan parkir, besarannya tergantung luas unit apartemen. “Hitungannya per meter persegi,” kata perempuan 25 tahun ini.
Biaya pemeliharaan gedung, di luar listrik, air, dan parkir itu, menurut Equita, dibayarkan setiap enam bulan sekali. Equita yang menghuni unit dengan dua kamar tidur sebesar Rp3,5 juta per enam bulan. Artinya, setiap bulan minimal ia harus menyisihkan  Rp580.000.

Tagihan biaya pemeliharaan gedung, tidak termasuk listrik, air, dan parkir, muncul di rekening virtual (virtual account) masing-masing penghuni. “Akan ketahuan kalau tagihan sudah lebih dari Rp 3 juta dan waktunya bayar,” katanya.
Sedang untuk tagihan listrik serta air, saban bulan Equita mesti merogoh kocek sekitar Rp 350.000. Dan, biaya parkir mobil: Rp 175.000 per bulan. Begitupun, menurut Equita, biaya parkir di apartemennya masih lebih murah ketimbang apartemen menengah bawah lain.
Beda dengan biaya bulanan lainnya termasuk listrik dan air, Equita menjelaskan, pembayaran biaya parkir langsung ke pengelola parkir yang jadi mitra apartemen per tanggal habis masa berlaku kartu. Bila sudah kedaluwarsa, maka kartu parkir tidak bisa dipakai untuk masuk ke gedung apartemen.

Biaya Tinggal di Apertemen Naik Setiap Tahun

Untuk biaya pemeliharaan gedung, Equita mengungkapkan, tiap tahun mengalami kenaikan. Hanya, dia lupa berapa persisnya tapi angka kenaikannya ratusan ribu rupiah. “Dan, setiap kenaikan tidak ada info lebih dulu,” ujarnya. 
Meski kalau ditotal biaya pemeliharaan mencapai Rp 1,1 juta per bulan, Equita merasa nilainya masih wajar. Soalnya, apartemen memberi banyak keuntungan buatnya, terutama dekat dengan tempat usahanya dan pusat kota.
“Biaya bulanannya memang lebih mahal dari perumahan, tapi juga sudah termasuk fasilitas seperti sport club,” ujarnya. Tambah lagi, mengurus unit apartemen lebih mudah dibanding rumah.

Tentu, semakin tinggi kelas apartemen, semakin tinggi pula biaya pemeliharaan gedungnya. Misalnya, maintenance fee di sebuah apartemen yang berlokasi di wilayah Pluit, Jakarta Utara.
Stefanie, penghuni hunian pencakar langit ini menghabiskan uang untuk tetek bengek biaya bulanan sedikitnya Rp 1,9 juta per bulan. Perinciannya: biaya pemeliharaan gedung minimal Rp 500.000, listrik dan air paling sedikit Rp 500.000, parkir dua mobil Rp 800.000, plus iuran rukun tetangga (RT) Rp 100.000.

Semua biaya itu disetorkan ke pengembang paling lambat sebelum tanggal 15 setiap bulan. Untuk parkir, batas akhir pembayaran tiap tanggal 5.
Yang selalu mengalami kenaikan setiap tahun adalah biaya parkir. Besaran kenaikannya sekitar 10% dan tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Walaupun mahal, perempuan 25 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai konsultan komunikasi bilang, tinggal di apartemen lebih banyak untungnya dibandingkan dengan di perumahan. “Praktis dan lokasinya strategis,” kata Stefani.

Biaya di Rumah Tapak Lebih murah

Jelas, biaya bulanan tinggal di perumahan jauh lebih murah ketimbang tinggal di apartemen. Maklum, komponen biayanya tidak banyak.Terlebih, tidak ada biaya parkir. 
Di kompleks saya yang terletak di pinggiran dekat Bogor, hanya membayar iuran lingkungan Rp90.000 per bulan. Iuran sebesar itu sudah termasuk untuk keamanan, sampah, serta kas RT dan RW. Biaya itu biasanya dikelola pengurus RT dan RW. Tiap tahun memang ada kenaikan iuran lingkungan, tapi biasanya tidak terlalu besar. Keputusan kenaikan dan besarnya tergantung dari musyawarah dan mufakat para penghuni. 

Untuk biaya listrik dan air, saya membayar langsung ke PLN rata-rata sekitar Rp500 ribu. Beberapa bulan lalu sebelum kenaikan sebesar Rp350 ribu. Untuk air, kebetulan air tanah di kompleks kami masih bagus sehingga saya tidak harus membayar air. Alhasil biaya bulanan yang harus saya siapkan hanya listrik.  

Sudah jelas kan, hitung-hitungan biaya tinggal di apartemen. Coba pertimbangkan  manfaat-manfaatnya, termasuk apakah signifikan dengan biaya transportasi yang bisa ditekan. Biaya ini juga bisa jadi pertimbangan Anda dalam membeli apartemen.