Gaya Hidup dan Pendapatan Njomplang? Ini Tanda-Tandanya

Intan Rizky Adelia
Intan Rizky Adelia
22 November 2018

Gaji naik, namun keuangan tak kunjung stabil. Apa yang salah?

Bukan hanya  Anda sendiri yang mengalami kejadian tersebut.  Banyak orang yang naik gaji namun kenyataannya isi rekening justru makin mudah terkuras.  Apa pasal?

Yups, gaya hidup! Gaji meningkat, gaya hidup ikut meningkat. Pengeluaran pun ikut bertambah.  Mungkin Anda beranggapan,”Sudahlah, ini waktunya  memanjakan diri dengan  sesuatu yang mahal karena selama ini sudah kerja keras..” tanpa Anda sadari, mindset itu selalu mengikuti sehingga tak terasa gaya hidup Anda pun berubah.  

Tahu-tahu… baru 2 minggu gajian, sisa gaji sudah tidak cukup untuk keperluan 2 minggu berikutnya. Atau tiba-tiba sadar isi rekening semakin menipis..

Celaka dua belas! Jika hal itu berlanjut terus, Anda bisa jatuh miskin,  Evaluasi segera perilaku keuangan Anda, dan lakukan langkah penyelamatan sebelum terjadi bencana keuangan. Coba cermati, apakah Anda mengidap salah satu dari 10 indikasi keuangan di bawah ini? Jika demikian, waspada, kemungkinan gaya hidup Anda melampaui pendapatan. 

1. Gaji bulanan kandas sebelum waktunya

Poin ini bisa dijadikan sebagai tolok ukur utama untuk mengecek gaya hidup yang sebenarnya. Dalam skenarionya, pengeluaran Anda melumpuhkan anggaran sehingga Anda harus menunggu hingga gaji berikutnya. Padahal Anda harus membayar tagihan-tagihan tersebut. 

Ada dua hal yang saling berkaitan sebagai penyebabnya. Pertama, terbiasa belanja tanpa perencanaan (impulse buying). Kedua, terbiasa mengikuti gaya orang lain untuk meningkatkan status. Ini  membuat Anda lebih cepat menghabiskan uang ketimbang menghasilkannya. 

 Apapun alasannya, Anda perlu lebih teliti dalam mengelola keuangan agar gaji selalu bersisa setiap bulan. Cek pos-pos mana yang harus dihilangkan, kemudian ganti dengan pos-pos yang lebih penting.

Lakukan perubahan yang serius seperti membeli mobil lebih murah dan mungkin pindah ke kos yang lebih sederhana. Intinya, sesuaikan dengan penghasilan. Ini sekaligus sebagai trik untuk mengakali kesulitan menabung karena uang yang bisa Anda bayarkan untuk kos yang mahal, bisa digunakan untuk menabung.

2.    Prosentase yang bisa ditabung semakin turun

Idealnya, orang bisa menabung sebesar 30% dari total gaji setiap bulan.  Pola penyimpanan ini demi mengamankan kecukupan kebutuhan di hari tua. Nyatanya, kemampuan menabung Anda semakin merosot setiap bulan. Dulu awal-awal bekerja Anda bisa menabung 30%, namun lama-lama turun ke angka 25%, 15% .. bahkan ada masanya ketika Anda tidak mampu menabung.

Itu artinya, Anda telah nganggap menabung bukan lagi hal penting. Atau bahkan sudah menempatkan dana pension sebagai cita-cita keuangan yang mustahil diwujudkan. Padahal bayangkanlah, dengan rutin menabung 30% setiap bulan, alam setahun Anda bisa mengumpulkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Sehingga dalam beberapa tahun, Anda sudah bisa membayar uang muka rumah baru untuk investasi masa tua.

Memang perlu usaha keras. Untuk mengembalikan tabungan, Anda harus bisa mengerem keinginan untuk belanja konsumtif. 

Bila memang sulit menabung, Anda dapat memakai tabungan rencana dengan menyetor uang ke rekening khusus, dan tidak diambil dalam jangka waktu tertentu.

3. Mulai sulit mencukupi kebutuhan pokok

Beli sembako, bayar listrik,  air, beli pulsa, internet, bayar asuransi, bayar cicilan  bisa jadi merupakan kebutuhan pokok Anda. Apa jadinya jika Anda tidak bisa memenuhi salah satunya? Sudah jelas Anda dalam masalah. 

Coba ambil catatan anggaran bulanan, amati daftar kebutuhan Anda. Jika bujet untuk alokasi  makanan terlalu besar, turunkan agar gaji Anda mencukupi untuk membiayai kebutuhan lain.. Belanjakan uang sesuai skala prioritas, bukan karena keinginan. 

4. Menghindari manajemen keuangan

Apakah Anda mulai alergi membuat rencana keuangan dan memeriksa saldo tabungan. Tiati, ini indikasi bahwa Anda mulai mengidap “penyakit jiwa” di bidang keuangan.  Mungkin Anda menghindarinya karena sudah tahu anggaran keuangan Anda buruk sehingga memilih menghindari kenyataan. Tapi ingat ya, Anda tidak mungkin menghindar selamanya.

Sebaiknya jadwalkan waktu untuk mengatur keuangan dalam seminggu, dan bisa sebulan. Mungkin Anda bisa melakukannya pada waktu senggang di rumah untuk dapat mengetahui anggaran seminggu ke depan.

5. Belanja jadi hobi

Apakah Anda sering online di internet untuk mengusir kebosanan atau ke pusat perbelanjaan untuk membeli sesuatu yang tidak perlu hanya untuk memiliki sesuatu?

Kemudahan pembayaran yang diberikan oleh toko-toko online sebaiknya jangan dipandang sebagai sesuatu yang menguntungkan. Sebaliknya, hal ini mendorong Anda untuk bersikap konsumtif. Kuatkan diri Anda terhadap berbagai godaan dari belanja online. Gunakan voucher dan cashback secara bijak, yakni untuk mengurangi pengeluaran, bukan menambah pengeluaran. 

Rencanakan juga merencanakan kegiatan dan petualangan lebih produktif bersama teman-teman ketimbang belanja sesuatu yang tidak Anda butuhkan.

6. Berburu barang mewah

Apakah Anda sering iri karena teman sering gonta-ganti tas bermerek? Pakai barang mewah memang bisa menaikkan gengsi, tapi Anda harus bisa membuang jauh-jauh rasa iri tersebut. Ini akan memacu Anda untuk menghabiskan lebih banyak uang hanya untuk bisa menandingi gayanya itu. 

Tapi jika kondisi financial tidak memungkinkan, tidak perlu memaksa diri.  Apalagi jika dibela-belain dengan cara cari utangan.  Barang murah sekalipun dapat mempercantik penampilan asal Anda tahu cara memadukannya. Meskipun murah, tetap perhatikan kualitas barang tersebut agar Anda tidak sering membeli barang baru dikemudian hari. 

Perlu Anda ingat, hidup bukan sebuah kompetisi, jadi tidak perlu bersaing dengan orang lain untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Nikmati apa yang ada pada diri Anda. Jika keuangan sudah terlanjur kacau balau karena sifat “merasa tersaingi”, segera diskusikan kepada konsultan keuangan. 

7. Cicilan kartu kredit berlebihan

Meski memakai kartu kredit merupakan praktik umum bagi banyak orang, namun jika Anda tidak melunasi tepat waktu utang kartu kredit bisa menjadi masalah besar karena sistem bunga berbunganya. Seiring waktu itu akan dikenakan biaya jauh lebih mahal dari tagihan awal.

Jika itu terus terjadi, lambat laun pendapatan yang Anda miliki bakal habis untuk membayar cicilan kartu kredit. Pada akhirnya Anda tidak punya uang lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli makanan. Coba hitung kembali cicilan kartu kredit yang perlu dibayarkan.

Jika prosentasenya lebih dari 30%, Anda harus mampu hidup dua kali lebih hemat demi menstabilkan kondisi keuangan. Pangkas kebutuhan yang tidak terlalu perlu, misalnya jajan atau belanja pakaian. Siap?