E-Money Terbukti Efisien Percepat Transaksi Tol Jasa Marga

Oleh Editor Selasa, 11 Juli 2017

Pengembangan Layanan Tol dan e-Money

Satu sosok yang terus berupaya meningkatkan kenyamanaan jalan tol adalah Eko Hari Purwanto. Sejak 2015, pria yang akrab disapa dengan panggilan Eko ini menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Jasa Marga Properti (JMP), anak perusahaan yang didirikan oleh Jasa Marga empat tahun silam.

Berkarir di PT Jasa Marga selama lebih dari 26 tahun membuat Eko fasih bicara perkembangan jalan tol. “Dulu belum banyak yang mengenal jalan tol. Tim kami benar-benar harus mulai dari nol untuk menarik investor,” kisahnya.

Dengan upaya keras, PT Jasa Marga mulai dikenal dan perlahan-lahan bisa menarik banyak investor untuk membangun jalan di berbagai wilayah. “Tantangannya memang di situ. Meskipun sulit saya tidak mungkin menyerah,” kisahnya ketika berbincang dengan DanaXtra.com di kantor Jasa Marga Properti yang terletak di kawasan Taman Mini, Jakarta Timur.

Banyak hal yang dia pelajari dalam perjalanan Eko mengembangkan jaringan jalan tol di seluruh Indonesia. Beragam posisi dan wilayah penugasan sudah ia jalani. Mulai dari Cirebon, Cikampek, Bandung, dan lainnya.

Pengalaman rintisan mulai dari nol dan di berbagai daerah membuatnya begitu paham beragam permasalahan jalan tol di Tanah Air. “Buat saya pengalaman ini sangat berharga. Seorang atasan harus mampu mengerti kesulitan dan permasalahan di lapangan agar bisa memahami problem yang sesunguhnya,” lanjutnya.

Secara umum, papar Eko, program JMP saat ini meliputi beberapa aktivitas pengembangan properti. Namun di luar properti, JMP juga mengembangkan unit Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) area jalan tol. Pada 2016 perseroan ditugaskan untuk mengelola TIP di KM 88 A (arah Bandung), KM 88 B (arah Jakarta) di Jalan Tol Purbaleunyi, serta KM 207 A Jalan Tol Palikanci. TIP KM 88 A memiliki area sekitar 18,6 hektar dan TIP KM 88 B memiliki luas total sekitar 23 hektar.

Bukan hanya terus-menerus mengembangkan jalur tol baru, di JMP ia diberi keleluasaan untuk terus berinovasi menerapkan teknologi terbaru guna mengembangkan berbagai fasilitas jalan tol. Termasuk penerapan e-money untuk pembayaran gardu tol.

Lebaran 2017 dan e-Money di Jalan Tol

e-money untuk akses gardu tol

Musim Lebaran 2017 kemarin, PT Jasa Marga adalah salah satu institusi yang paling sibuk dalam memfasilitasi kelancaran musim mudik. Penyelanggara jalan tol di Indonesia tersebut harus mempersiapkan kelancaran perjalanan para pemudik.

Ini bukan pekerjaan sederhana. Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) memproyeksikan ada pergerakan 33 juta pemudik pada musim mudik kemarin. Pergerakan pemudik sebagian besar terjadi wilayah Jawa.Lebih khusus untuk pemudik yang memanfaatkan kendaraan pribadi, pemerintah memperkirakan jumlahnya lebih dari 3 juta mobil.

Selain mengoptimalkan kesiapan jalan tol yang menjadi channel transportasi para pemudik, dalam posisinya sebagai komandan divisi finansial Jasa Marga, Eko berinisiatif memanfaatkan momentum Lebaran 2017 untuk memasyarakatkan penggunaan e-money dalam pembayaran tol yang lebih cepat dan praktis.

e-Money untuk Kurangi Antrean Gardu Tol

Mudah dipahami, peningkatan jumlah kendaraan yang sangat signifikan selama libur lebaran, sangat potensial menghasilkan kemacetan pada sejumlah gerbanng tol. Eko menilai penggunaan uang non tunai mampu mengurangi jumlah antrean dan mempercepat transaksi di gerbang tol.

Saat ini, penggunaan uang elektronik dalam transaksi di jalan tol milik Jasa Marga baru mencapai 28%. Secara lebih luas kebijakan ini juga diharapkan mampu meningkatkan penggunaan e-Money di masyarakat.

Ruas Tol yang Terapkan e-Money

Beberapa gerbang tol yang menerapkan pembayaran non tunai adalah Jalan tol Jagorawi, Jalan Tol Jakarta –Tangerang, Jalan Tol Dalam Kota Jakarta. Juga Jalan Tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo, Jakarta, Jalan Tol JPRR (Simpang Susun Kebon Jeruk – Rorotan), Jalan Tol Jakarta – Serpong (Ruas Pondok Aren – Ulujami) dan Jalan Tol BORR.

Yang lain adalah Jalan Tol Purbaleunyi, Jalan Tol Palikanci, Jalan Tol Semarang, serta Jalan Tol Semarang – Solo (Semarang – Bawen). Lalu Jalan Tol Surabaya-Gempol (Ruas Dupak-Porong), Jalan Tol Suranaya-Mojokerto (Ruas Krian-Mojokerto), Jalan Tol Bermera, serta Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa
Menurut Eko, tidak mudah mengubah habit masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dengan pembayaran tunai. Untuk “memaksa” penguna tol kepada transaksi digital, beberapa gerbang tol seperti di Bekasi Barat sengaja tidak bisa menerima pembayaran tunai.

Diskon untuk Stimulasi Penggunaan e-Money

kerjasama jasa marga menggunakan e-money

Untuk lebih menstimulasi kelancaran penerapan uang elektronikdi jalan tol, Eko juga melakukan strategi promosi khusus. Selama periode arus mudik hingga arus balik libur lebaran kemarin, pihaknya memberikan diskon tarif tol sebesar 20% kepada pengguna uang non tunai. Diskon tersebut mulai berlaku di H-3 dan H-2 lebaran, serta H+4 sampai dengan H+6 lebaran.

“Dengan diskon 20% tersebut, kami berharap pengguna jalan berpindah melakukan transaksi pembayaran tol dari tunai menjadi non tunai dan transaksi di gardu tol menjadi lebih cepat dan antrian dapat berkurang secara signifikan,” ujarnya.

Perluas Kerjasama dengan Provider e-Money

“Uang elektronik yang bisa dipakai di jalan tol adalah Mandiri (e-money), BRI (BRIZZI), BNI (TapCash), BTN (Blink), dan BCA (Flazz). Selain itu kami terus berusaha memperluas kerjasama dengan provider lainnya,” tambah Eko.

Agar promo ini berjalan lebih lancar, Jasa Marga juga menawarkan harga promo dalam pembelian uang elektronik di gerbang tol.

What’s next after e-Money?

koleksi tema e-money indonesia

Di luar strategi pengembangan teknologi digital dalam layanan tol , Eko juga mengundang partisipasitenant untuk bersama-sama mengembangkan area tol.“Saya harus membuat banyak terobosan untuk meningkatkan penghasilan non tol. Intinya lebih ‘menghidupkan’ jalan tol,” paparnya penuh semangat.

Eko ingin di masa mendatang rest area itu akan menjadi lebih hidup. Ia berencana akan membesut beragam event yang melibatkan komunitas-komunitas otomotif. “Kami akan mencoba maksimalkan area dan kelengkapan pendukungnya,” ujarnya.

Dalam hal penggunaan kartu elektronik, setelah sukses penggunaan uang digital menjadi kebiasaan untuk pembayaran jalan tol, Eko tidak menutup kemungkinan akan mengenalkan penerapan kartu kredit dan kartu debit.Potensi lain yang bisa dilirik adalah mengeluarkan kartu e-toll khusus dengan desain menarik yang pantas dijadikan barang koleksi seperti yang sudah ditempuh oleh Bank Mandiri.